AMBON, PNI.-Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon kini telah memiliki 127 orang profesor atau guru besar. Ini setelah lembaga pendidikan tinggi tersebut mengukuhkan enam guru besar dalam upacara yang digelar di Aula Lantai 2 Gedung Rektorat Unpatti Ambon, Rabu (11/2).
Enam akademisi yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Imanuel Berly Delvis Kapelle, S.Si., M.Si.; Prof. Wilma Latuny, S.T., M.Si., M.Phil., Ph.D.; Prof. Dr. Henry Junus Wattimanela, S.Si., M.Si.; Prof. Dr. Kalvin Karuna, M.Pd.; dan Prof. Dr. Wilma Akihary, S.Pd., M.Hum.
Rektor Unpatti, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy mengatakan. capaian ini menjadi kebanggaan bagi seluruh sivitas akademika. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, Unpatti telah menambah 11 guru besar setelah sebelumnya pada 29 Desember 2025 ada lima profesor yang dikukuhkan. “Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hari ini jumlahnya sudah 127 guru besar. Ini kebanggaan bagi kita semua,” ujar Leiwakabessy dalam sambutannya.
Menurutnya, enam guru besar yang dikukuhkan berasal dari tiga generasi berbeda, mulai dari kelahiran 1960-an hingga 1980-an. Bahkan, ada profesor yang akan memasuki masa pensiun dalam satu tahun ke depan dan ada pula yang masih berusia 43 tahun. “Ini luar biasa. Potensi sumber daya manusia Maluku tidak perlu diragukan lagi,” katanya.
Fredy juga menyoroti kontribusi keilmuan masing-masing guru besar. Prof. Henry mengangkat pemikiran tentang adaptasi dan resiliensi dalam menghadapi kebencanaan sebagai respons atas tantangan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat.
Sementara itu, Prof. Berly memaparkan riset penguatan bahan alam berbasis potensi lokal seperti cengkeh dan pala. Penelitian tersebut mengkaji struktur kimia bahan alam yang berpotensi dikembangkan menjadi obat serta mendukung ketahanan pangan. “Potensi lokal kita luar biasa. Tidak perlu jauh mencari, kita sudah punya di Unpatti,” ujarnya.
Di bidang linguistik, Prof. Wilma Akihary menekankan pentingnya bahasa sebagai identitas kultural sekaligus penguatan budaya lokal.
Prof Wilma Latuny juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk pemerataan akses, penguatan industri lokal, dan pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, terdapat gagasan mengenai pengelolaan wilayah pesisir secara terintegrasi, termasuk tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam guna mendukung pembangunan berkelanjutan. Ada pula pemikiran tentang pentingnya kegemaran membaca sebagai fondasi penguatan daya pikir masyarakat.
“Kemampuan membaca adalah bagian dari pemberdayaan berpikir. Hanya dengan kegemaran dan kemampuan membaca, kita mengasah daya pikir untuk menjadi lebih baik,” kata Leiwakabessy mengutip pokok pikiran pidato ilmiah para guru besar.
Ia berharap para profesor tidak berhenti pada pidato pengukuhan semata, tetapi terus menghasilkan karya inovatif yang mampu menjawab persoalan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia juga mendorong budaya kolaborasi di lingkungan perguruan tinggi. “Fungsi kita bukan lagi kompetisi, tetapi kolaborasi. Kita yang sudah maju harus menghela yang lain untuk maju bersama menuju Indonesia Emas,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath yang turut hadir menyampaikan apresiasi atas bertambahnya jumlah guru besar di Unpatti.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi di Maluku dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Tidak ada murid pintar yang diajarkan oleh guru yang bodoh. Murid yang pintar pasti diajarkan oleh guru yang pintar pula,” ujar Vanath.
Ia berharap Unpatti bersama perguruan tinggi lain di Maluku, seperti IAIN Ambon, IAKN Ambon, UKIM, serta sekolah tinggi dan universitas lainnya, terus memperkuat kualitas pendidikan dan menghasilkan lebih banyak SDM unggul. “Secara bertahap kita harus bisa memproduksi lebih banyak SDM unggul di Maluku,” katanya.(PNI-02)
