AMBON, PNI.- Rektor Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., menegaskan tidak boleh ada kekerasan dalam proses pendidikan di lingkungan kampus. Pesan tegas itu disampaikan Fredy saat menutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pattimura Tahun Akademik 2026/2027 di lapangan upacara Unpatti, Ambon, Senin (7/9).
Di hadapan sivitas akademika dan ribuan mahasiswa baru, Fredy mengingatkan seluruh tenaga pendidik dan pengelola kampus bahwa mahasiswa merupakan anak-anak yang dipercayakan orang tua dan wali kepada Unpatti untuk mendapatkan pendidikan. “Anak-anak ini dipercayakan oleh orang tua dan wali mereka untuk dididik di institusi tercinta ini. Karena itu, marilah kita menyambut mereka dengan penuh rasa tanggung jawab, bekerja dengan profesional, bekerja dengan integritas dan karakter yang tinggi,” ujar Fredy.
Ia meminta mahasiswa baru diperlakukan layaknya anak sendiri. Menurutnya, Unpatti harus menjadi rumah kedua bagi mahasiswa, sekaligus ruang yang aman untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan karakter. “Universitas Pattimura adalah rumah kedua mereka. Jadikan rumah kedua ini sebagai tempat untuk mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Nilai-nilai tersebut akan menjadikan mereka bermakna bagi kehidupan bangsa dan negara,” katanya.
Leiwakabessy secara khusus menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan. Ia meminta seluruh proses pembelajaran, pembinaan maupun pendampingan mahasiswa dilakukan dengan pendekatan yang humanis dan edukatif. “Jauhkan seluruh perlakuan-perlakuan kekerasan di dalam seluruh proses pendidikan. Jadikan seluruh proses yang kita jalani dengan mereka adalah proses yang humanis, proses yang edukatif,” tegasnya.
Rektor Unpatti ini juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya melahirkan mahasiswa yang unggul secara akademik. Unpatti, kata dia, memiliki tanggung jawab membentuk generasi yang matang secara emosional, spiritual dan sosial. “Kami berharap tekad ini menjadi moralitas kita semua untuk membawa anak-anak kita menjadi anak-anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi secara emosional, spiritual, dan juga relasi sosial dengan semua pihak,” pungkasnya.(PNI-02)
