AMBON, PNI.- Pattimura Law Fair 2026 tidak sekadar menjadi ajang mengasah kemampuan debat mahasiswa, tetapi juga diarahkan untuk membentuk generasi muda Maluku yang kritis, berintegritas dan taat hukum. Kegiatan yang diselenggarakan Pattimura Law Debate Community (PLDC), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Debat Fakultas Hukum Universitas Pattimura (FH Unpatti), itu mengusung tema “Dari Pulau ke-Pulau, Dari Pikiran ke Tindakan Mewujudkan Generasi yang Taat Hukum.”
Pattimura Law Fair 2026 dibuka Dekan FH Unpatti, Prof. Adonia Laturette, S.H., M.Hum. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan debat, argumentasi, riset, sekaligus menganalisis berbagai persoalan publik dari perspektif akademik.
Babak penyisihan sebelumnya berlangsung secara daring. Kompetisi kemudian berlanjut ke babak delapan besar, semifinal, perebutan juara III hingga final yang berlangsung pada 28–29 September 2026. Memasuki babak delapan besar, peserta diuji melalui sejumlah mosi yang berkaitan dengan persoalan strategis di masyarakat.
Di antaranya pendidikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai mata pelajaran wajib pada jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Peserta juga membahas Program Makan Bergizi Gratis dengan prioritas bahan pangan produksi masyarakat lokal, perluasan pertukaran pelajar antarpulau untuk pemerataan kualitas pendidikan, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di wilayah pesisir Maluku.
Berbagai mosi tersebut menuntut peserta tidak hanya pandai berbicara, tetapi mampu menyusun argumentasi berdasarkan data, logika dan fakta. Tema “Dari Pulau ke-Pulau” juga mengangkat realitas Maluku sebagai daerah kepulauan.
Hukum dan keadilan diharapkan tidak hanya menjadi konsep yang hidup di pusat kota, tetapi juga hadir dan ditegakkan hingga ke desa, pesisir dan pulau-pulau. “Dari Pulau ke-Pulau mengingatkan kita pada realitas geografis Provinsi Maluku. Bentangan laut dan selat di daerah kita bukanlah pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan kesadaran dan kebersamaan kita,” ujar Prof Adonia Laturette.
Melalui forum debat, mahasiswa ditantang membedah persoalan, menguji logika, serta merumuskan argumentasi yang tajam dan berbasis fakta. Mahasiswa juga didorong membawa kesadaran hukum tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat. “Kami tidak hanya ingin mencetak pemenang debat, tetapi yang paling utama adalah mewujudkan generasi yang taat hukum,” tegas Laturette.
Mahasiswa juga diharapkan menjadi teladan melalui sikap disiplin, menjauhi kenakalan remaja, menolak kekerasan dan menjadi role model di lingkungan masing-masing.(PNI-02)
