AMBON, PNI.- Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyatakan dukungan penuh terhadap investasi Seram Opportunity yang menjadi bagian dari Program Pengembangan Ekonomi Pulau Seram. Dukungan tersebut disampaikan Lewerissa saat membahas rencana investasi itu bersama Pemerintah Daerah Maluku, PT Kamboti Hasil Tani Maluku, dan PT Kemitraan Bhinneka Solusi di Ruang Rapat Gubernur, lantai II Kantor Gubernur Maluku, Rabu 7 Oktober 2026.
Dalam keterangan yang diterima media ini, investasi Seram Opportunity merupakan inisiatif PT Kamboti Hasil Tani Maluku yang dipimpin Direktur Samson R. Atapary, bersama Dewan Komisaris Mansur Tuharea, Arobi Kelian, dan Manik. Investasi ini dikembangkan melalui kerja sama dengan PT Kemitraan Bhinneka Solusi yang berkedudukan di Jakarta.
Lewerissa mendukung investasi tersebut karena dinilai berpotensi meningkatkan perekonomian petani di desa sekaligus membuka lapangan kerja di Pulau Seram, yang meliputi Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat (SBB), dan Seram Bagian Timur (SBT). Model investasi Seram Opportunity mengedepankan kemitraan langsung dengan petani pemilik tanah. Perusahaan tidak membeli tanah masyarakat, sehingga hak atas tanah adat, tanah marga, maupun tanah milik perorangan tetap dipertahankan dalam jangka panjang.
Kemitraan antara perusahaan dan petani akan dibangun melalui pola bagi hasil yang adil dan transparan. Selain itu, investasi tersebut diklaim tetap memperhatikan ketahanan pangan lokal dengan tidak mengalihfungsikan hutan sagu maupun kawasan hutan.
Seram Opportunity dirancang untuk mengembangkan hilirisasi tiga komoditas utama, yakni kelapa sawit, kelapa, dan kopi. Pada fase pertama, pengembangan difokuskan pada hilirisasi kelapa sawit. Pemilihan sawit sebagai komoditas awal didasarkan pada potensi produktivitasnya dalam mendukung peningkatan pendapatan keluarga petani. Tanaman ini menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang dapat dipanen secara berkala, dengan perkiraan interval panen setiap dua minggu.
Konsep perkebunan akan dikembangkan dalam bentuk kluster dengan luas masing-masing 250 hektare. Di setiap kluster direncanakan pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) mini berkapasitas pengolahan satu ton TBS per jam untuk menghasilkan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).(PNI-02)
