AMBON, PNI.- Rektor Universitas Pattimura (Unpatti), Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., mendorong lahirnya standar akademik baru berbasis musik melalui gagasan “Unpatti MusicMetric”. Inisiatif ini disiapkan untuk memperkuat posisi Unpatti sebagai pusat pengembangan musik dan warisan budaya Maluku di tingkat nasional hingga internasional.
Gagasan tersebut disampaikannya saat menutup Kuliah Umum Internasional dan Knowledge Sharing Diaspora “Maluku Musical Heritage Intelligence Initiative” di Aula Rektorat Unpatti, Selasa (6/10).
Di tengah ekspansi teknologi kecerdasan artifisial (AI), Fredy menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengikis karakter musik dan budaya Maluku. Menurutnya, teknologi dapat mengolah data dan membantu proses kreatif, tetapi rasa manusia tetap menjadi pembeda utama sebuah karya seni. “Teknologi AI saat ini berkembang sangat cepat dan mampu mengolah data secara detail. Namun, rasa musik dan identitas budaya Maluku yang khas tidak boleh hilang. Sentuhan rasa manusia tetap menjadi kunci utama,” kata Fredy.
Ia bahkan membagikan pengalamannya ketika menerima sebuah lagu yang mengisahkan perjalanan kariernya dari seorang dosen hingga menjadi rektor. Lagu tersebut dibuat dengan bantuan AI, termasuk dalam penyusunan lirik. Bagi dia, pengalaman itu menjadi gambaran bahwa AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan menjadi instrumen yang harus dikendalikan untuk memperkuat kreativitas tanpa menghilangkan identitas budaya.
Dari gagasan tersebut, Unpatti MusicMetric diarahkan menjadi instrumen penilaian bagi perguruan tinggi berbasis musik. Konsep ini sekaligus menjadi strategi Unpatti menangkap peluang Ambon sebagai City of Music dan mengubah kekuatan musik Maluku menjadi bagian dari ekosistem akademik, riset, inovasi, serta kebudayaan.
Fredy menegaskan, langkah tersebut tidak berdiri sendiri. Pengembangan Unpatti ke depan akan bertumpu pada tiga agenda utama: digitalisasi, transformasi, dan internasionalisasi. “Indonesia Timur adalah masa depan Indonesia,” tegasnya.
Karena itu, Unpatti didorong tidak hanya memperluas jejaring di tingkat nasional, tetapi juga mengincar kemitraan strategis dengan negara-negara Asia dan kawasan Pasifik, termasuk Tiongkok, Jepang, dan Korea. Menurut Fredy, internasionalisasi harus diterjemahkan dalam kerja sama konkret yang mampu membawa potensi akademik dan budaya Maluku keluar dari ruang lokal menuju panggung global.
Dalam penutupan kegiatan tersebut, Fredy turut menyampaikan apresiasi kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun; Founder OPUS Solutions Limited & Global Ambassador for Indonesia Hong Kong Cyberport, Dennis Tedja, B.BA.; musisi senior Dharma Oratmangun; serta Prof. Wilma Latuny, Ph.D., penerima Hibah Diaspora Berdampak Diktisaintek Batch I sekaligus penggagas agenda tersebut.
Rangkaian program ini tidak berhenti pada forum kuliah umum. Unpatti menyiapkan tindak lanjut melalui penyusunan roadmap, blueprint, dan pembentukan working group untuk membangun ekosistem digital warisan budaya Maluku. Langkah ini menempatkan musik bukan sekadar produk seni, tetapi sebagai aset pengetahuan, identitas budaya, dan instrumen diplomasi akademik yang dapat memperkuat langkah Unpatti menuju World Class University.(PNI-02)
