MEDAN, PNI.- Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon kembali mencatatkan prestasi di tingkat nasional setelah meraih nilai akhir 3,6 dalam Evaluasi Implementasi Kota Cerdas (Smart City) Tahun 2025 yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Capaian tersebut menempatkan Ambon sebagai salah satu dari 10 ibu kota provinsi yang menjadi objek evaluasi nasional, sekaligus menunjukkan kemajuan transformasi digital yang terus dikembangkan Pemerintah Kota Ambon dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik berbasis teknologi.
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, mengatakan hasil evaluasi tersebut menjadi bukti bahwa arah pembangunan kota berbasis pemerintahan digital telah berjalan sesuai target. “Puji Tuhan, hasil evaluasi ini menunjukkan bahwa upaya Pemerintah Kota Ambon dalam membangun tata kelola pemerintahan berbasis digital mulai membuahkan hasil. Ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan bahwa pembangunan kota telah berada di jalur yang benar,” ujar Bodewin saat menghadiri pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI di Hotel Grand City Hall, Medan, Rabu (1/7).
Evaluasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Teknologi Pemerintah Digital Kemkomdigi itu tertuang dalam Surat Nomor B-121/DJTPD/AI.01.02/05/2026 tertanggal 12 Mei 2026 yang ditujukan kepada Wali Kota Ambon. Dalam penilaian tersebut, Ambon memperoleh nilai Baseline 3,8, Output 3,18, Outcome 3,33, Impact 3,94, Quick Wins 4, dan Emerging Technology 4, sehingga menghasilkan nilai akhir 3,6. Nilai tersebut menempatkan Ambon di atas Balikpapan (3,59) dan Batam (3,5).
Penilaian dilakukan melalui 116 indikator yang mencakup enam dimensi Smart City, yakni Smart Governance, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, Smart Environment, dan Smart Branding.
Menurut Bodewin, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh perangkat daerah serta dukungan masyarakat dalam mendorong transformasi digital. “Prestasi ini merupakan hasil kerja bersama seluruh perangkat daerah dan dukungan masyarakat. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi membangun Ambon menjadi kota yang semakin modern, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik,” katanya.
Sejumlah inovasi yang menjadi perhatian tim asesor antara lain Pusat Kendali Kota berbasis Artificial Intelligence (AI), layanan Call Center 112, serta program WAJAR (Wali Kota Jumpa Rakyat) yang dinilai mampu memperkuat tata kelola pemerintahan dan meningkatkan partisipasi masyarakat.
Selain itu, status Ambon sebagai Kota Musik Dunia UNESCO turut menjadi nilai tambah dalam pengembangan Smart City yang terintegrasi dengan Rencana Induk Kota Cerdas 2025–2029. Tim evaluator juga mencatat sejumlah capaian pembangunan, di antaranya tingkat kemiskinan sebesar 4,3 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 82,84 dengan kategori sangat tinggi, serta prevalensi stunting berada pada angka 1,6 persen.
Di sektor kesehatan, layanan e-Puskesmas telah terintegrasi dengan platform SATUSEHAT. Sementara itu, pengelolaan sampah mulai diarahkan menuju sistem Refuse Derived Fuel/Material Recovery Facility (RDF/MRF) yang lebih berkelanjutan. Pusat Kendali Kota juga dinilai mampu meningkatkan efektivitas pemantauan keamanan, pengaturan lalu lintas, hingga penanganan kebencanaan secara lebih cepat melalui integrasi data lintas sektor.
Meski demikian, Bodewin mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dibenahi, seperti pengelolaan sampah, penguatan tata kelola keuangan daerah, peningkatan integrasi sistem digital, serta pengembangan sumber daya manusia.
Pemerintah Kota Ambon juga akan mempercepat pembangunan sistem Satu Data Ambon, memperluas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor, serta memperkuat kolaborasi dengan Universitas Pattimura dan perguruan tinggi lainnya dalam menyiapkan SDM bidang teknologi informasi. “Kami optimistis, melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Ambon akan semakin maju menjadi kota yang cerdas, kreatif, inklusif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Bodewin. (PNI-02)
