KAIRATU, PNI.- Eksistensi guru Bahasa Jerman di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) terus diperkuat melalui berbagai upaya peningkatan kapasitas dan profesionalisme di tengah dinamika transformasi pendidikan nasional. Sebanyak 19 guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jerman Kabupaten SBB mengikuti pelatihan penyusunan modul ajar berbasis Deep Learning yang terintegrasi dengan budaya lokal Maluku.
Kegiatan yang dipusatkan di SMA Negeri 1 Kairatu Seram Bagian Barat (SBB) pada 4 Juli 2026 itu merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Pattimura.
Program tersebut dilaksanakan secara bertahap, dimulai dengan sosialisasi daring pada 2 Juli 2026, pelatihan tatap muka pada 4 Juli 2026, hingga pendampingan daring yang dijadwalkan berlangsung pada 10 Juli 2026.
Ketua MGMP Bahasa Jerman Kabupaten Seram Bagian Barat, Yessy Lokollo, M.Pd., mengatakan komunitas guru Bahasa Jerman di daerah itu tidak sekadar menjadi wadah koordinasi, tetapi juga ruang belajar bersama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. “Guru Bahasa Jerman di Seram Bagian Barat terus berupaya menjaga eksistensinya melalui berbagai kegiatan pengembangan profesi. Kami menyadari perubahan paradigma pendidikan menuntut guru untuk terus belajar, beradaptasi, dan menghadirkan pembelajaran yang semakin berkualitas bagi peserta didik,” ujarnya dalam rilis yang diterima media ini, Jumat (10/7).
Menurut Yessy, kolaborasi dengan Universitas Pattimura menjadi momentum penting bagi MGMP untuk memperkuat kapasitas guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik saat ini.
Ketua Tim Pengabdian Universitas Pattimura, Prof. Dr. Wilma Akihary, S.Pd., M.Hum., menilai semangat para guru Bahasa Jerman di wilayah kepulauan menjadi modal utama dalam menjaga keberlanjutan pembelajaran Bahasa Jerman di Maluku. “Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari para guru. Meskipun berada di wilayah kepulauan, mereka memiliki semangat yang tinggi untuk terus meningkatkan kompetensi. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh letak geografis, tetapi oleh kemauan untuk terus belajar dan berinovasi,” kata Prof Wilma.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut dirancang untuk membekali guru dengan kemampuan menyusun modul ajar berbasis Deep Learning yang mendorong peserta didik berpikir kritis, reflektif, kreatif, serta mampu mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Salah satu keunikan program ini adalah integrasi budaya lokal Maluku ke dalam pembelajaran Bahasa Jerman. Menurut Prof Wilma, pendekatan tersebut tidak hanya memperkuat identitas budaya peserta didik, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi antarbudaya. “Budaya lokal Maluku memiliki nilai edukatif yang sangat kaya. Ketika dikontekstualisasikan dalam pembelajaran Bahasa Jerman, peserta didik tidak hanya belajar bahasa asing, tetapi juga belajar memahami dan menghargai budaya sendiri sebagai bagian dari identitas mereka,” ujarnya.
Selama pelatihan, peserta mengikuti workshop penyusunan modul ajar mulai dari perumusan tujuan pembelajaran, pengembangan asesmen autentik, aktivitas berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS), hingga pemanfaatan teknologi digital seperti Canva, Google Workspace, Microsoft PowerPoint, dan QR Code untuk mendukung pembelajaran yang lebih interaktif.
Program pengabdian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Wilma Akihary dengan anggota Dr. Martha Maspaitella, S.Pd., M.Pd., dan Areni Yulitawati Supriyono, M.Pd. Kegiatan juga melibatkan Nisar Yulianti dan Nur’aeni, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Pattimura yang juga merupakan Multiplikator Goethe-Institut Indonesia serta pengurus MGMP Bahasa Jerman Jawa Barat.
Kehadiran keduanya memperkuat proses pendampingan melalui berbagi praktik baik dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Jerman dan pemanfaatan media pembelajaran inovatif. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung.
Salah satu peserta, Trecyan Beatrix Maitimu, S.Pd., mengaku pelatihan tersebut memberikan perspektif baru dalam pengembangan pembelajaran di kelas. “Pelatihan ini memberikan semangat baru bagi kami. Selain memahami konsep Deep Learning, kami belajar mengembangkan modul ajar yang lebih kontekstual dengan memanfaatkan budaya lokal Maluku. Pendampingan dari tim Universitas Pattimura membuat kami semakin percaya diri untuk menerapkannya di kelas,” ungkapnya.
Bagi guru-guru Bahasa Jerman di Seram Bagian Barat, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi juga menjadi penegasan bahwa komunitas mereka terus tumbuh dan berkembang.
Melalui pendampingan lanjutan yang berlangsung pada 10 Juli 2026, Universitas Pattimura bersama MGMP Bahasa Jerman Kabupaten Seram Bagian Barat berharap dapat melahirkan modul ajar inovatif yang siap diterapkan di sekolah-sekolah.
Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkuat eksistensi guru Bahasa Jerman di Seram Bagian Barat sebagai komunitas pendidik yang adaptif, kolaboratif, dan terus berinovasi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Maluku.(PNI-02)
