JAKARTA, PNI.- Kekayaan alam Indonesia kembali didorong untuk naik kelas. Bukan sekadar menjadi komoditas mentah, bahan alam lokal kini mulai diteliti dan dikembangkan berbasis sains untuk menghasilkan inovasi bernilai tambah.
Langkah itu dilakukan ParagonCorp melalui kolaborasi riset bersama Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK). Salah satu potensi yang tengah dieksplorasi adalah patchouli alcohol crystal, komponen yang berasal dari minyak nilam Aceh dan sedang diteliti sebagai kandidat natural active ingredient untuk aplikasi kosmetik. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia melalui pendekatan berbasis scientific evidence.
Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, Sp.DVE, FINSDV, mengatakan kekayaan bahan alam Indonesia harus diikuti dengan penguatan pengetahuan dan kemampuan riset. “Tantangannya adalah bagaimana kita membangun pengetahuan dan scientific capability di balik bahan-bahan tersebut,” ujar Sari dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8).
Menurutnya, local ingredient akan memiliki nilai lebih besar ketika karakteristik dan potensinya tidak hanya diketahui secara empiris, tetapi juga dapat dipahami dan dibuktikan melalui penelitian.
Dalam kolaborasi tersebut, ARC USK memiliki pengalaman dalam penelitian nilam, minyak atsiri, dan bahan alam. Sementara ParagonCorp membawa kemampuan riset dan pengembangan kosmetik serta pemahaman mengenai kebutuhan industri beauty. Pertemuan dua kapabilitas tersebut membuka peluang penelitian dari tahap karakterisasi bahan hingga pengujian potensi manfaatnya untuk aplikasi kosmetik.
Eksplorasi patchouli alcohol crystal menjadi salah satu fokus penelitian. Nilam tidak hanya dilihat dari pemanfaatannya yang selama ini telah dikenal, tetapi juga dikaji lebih jauh untuk mengetahui karakteristik komponen di dalamnya serta peluang pengembangannya sebagai bahan aktif kosmetik.
Kepala ARC USK, Syaifullah Muhammad, mengatakan kolaborasi tersebut mempertemukan keahlian akademik dan kebutuhan industri. “ARC memiliki pengalaman dalam penelitian nilam dan minyak atsiri, sementara industri memiliki kebutuhan dan perspektif mengenai pengembangan bahan untuk aplikasi kosmetik,” katanya.
Ia berharap penelitian tersebut dapat terus dikembangkan sehingga hasilnya memberikan manfaat yang lebih luas. Meski demikian, ParagonCorp menegaskan penelitian terhadap patchouli alcohol crystal masih berlangsung.
Berbagai potensi yang ditemukan masih membutuhkan pengujian dan validasi lebih lanjut sebelum dapat ditetapkan sebagai kesimpulan ilmiah maupun diterapkan ke dalam produk kosmetik.
Bagi ParagonCorp, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan hilirisasi bahan alam, yakni menghubungkan sumber daya alam, pengetahuan, sains, teknologi, dan kemampuan industri. Dengan pendekatan itu, kekayaan alam Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi dapat berkembang menjadi sumber inovasi dan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
ParagonCorp juga menyebut kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem science, technology, talent, dan innovation di Indonesia.
Penguatan ekosistem tersebut dinilai penting agar pengembangan industri beauty nasional tidak hanya bertumpu pada produk akhir, tetapi juga pada penguasaan pengetahuan, teknologi, serta pemanfaatan bahan alam lokal berbasis bukti ilmiah.(PNI-02)
